Bukan Tinta, Hanya Air Mata

Sudah lama…

Sejak terakhir kali kutuangkan rasa,

Ke dalam goresan tinta.

Kini jari-jemari perlahan kaku,

Seperti jiwa yang kehilangan bahasa.


Namun, Sejak kepergianmu,

Dada ini penuh sesak—

Bagai lahar yang bergolak,

Tak lagi tahan berdiam di perut bumi.


Kehilangan, kerinduan, penyesalan—

Semua berpadu menjadi satu.


Dalam kekakuan, 

Tak lagi tergores tinta

Hanya air mata.


Kau indah dalam tuturmu,

Kau indah dalam lakumu.

Kau indah dalam senyummu,

Kau indah dalam tawamu,

Keindahan itu, sempurna bersemayam dalam dirimu.


Begitu indah… membayangkan hadirmu dalam hidupku,

Betapa pedih… menyadari keindahan itu telah jauh dariku.

(RD)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PADA SURYA DI LANGIT SENJA, AKU TITIPKAN

Andai, Chairil Anwar adalah Aku

KATA TANPA RASA