Dalam Pahit, Aku Belajar Pulang
Di sudut desa yang lengang, sore terasa melar. Waktu berjalan lambat, seolah enggan meninggalkan bayang-bayang yang tertinggal. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah yang basah dan suara-suara kecil kehidupan yang nyaris tak terdengar.
Aku menyeduh secangkir kopi—ritual kecil yang menahan jiwaku agar tetap berpijak. Setengah sendok gula dan dua sendok kopi kutuang ke dalam gelas. Sengaja kubiarkan hanya sedikit gula, bukan karena takdir diri ini terlahir manis, melainkan karena aku telah belajar bahwa pahitlah yang menyadarkan. Pahitlah yang meruntuhkan tembok keangkuhan.
Kuseruput perlahan. Pahitnya menyeretku masuk ke lorong batin yang sunyi, lorong yang jarang kusambangi. Dua puluh enam tahun perjalanan hidup—hamparan panjang penuh sukacita, keberhasilan, kebahagiaan, dan hal-hal manis yang kerap membuatku lupa diri. Membuatku percaya bahwa segala sesuatu adalah buah kerja tanganku semata. Bahwa aku adalah pencipta jalanku sendiri. Bahwa aku tak lagi menginjak tanah, hidup di atas awan-awan.
Namun Sang Pencipta selalu punya cara mengajar. Suatu ketika Ia mengambil yang paling indah dalam hidupku—yang paling kucintai, yang paling mencintaiku—dan membawanya kembali ke pangkuan-Nya. Seperti petir yang menyambar langit tenang, aku dihempaskan hingga ke titik nadir semesta.
Aku retak. Aku runtuh. Aku kehilangan arah. Pahitnya melampaui senyawa paling pahit yang pernah dikenal manusia. Sakitnya melampaui siksaan terberat yang pernah kubayangkan. Dalam kepahitan itu, aku menyadari: aku hanyalah debu yang diberi napas. Bahkan raga ini bukan milikku; jiwa ini pun bukan milikku. Semua hanya titipan, semua hanya sementara.
Namun di dalam hancur itu, sesuatu yang lain mulai tumbuh. Seperti benih yang pecah sebelum bertunas, di sanalah aku mulai belajar tunduk. Di sanalah aku mengerti bahwa pahit bukanlah kutukan, melainkan cermin. Cermin yang memantulkan siapa aku sebenarnya, cermin yang mengajarkan bahwa kehilangan adalah jalan pulang.
Kini setiap teguk kopi terasa seperti doa: pahitnya mengajarkan rendah hati, hangatnya mengajarkan bertahan. Dan dalam setiap senja yang perlahan padam, aku belajar bahwa bahkan kehampaan pun bisa menjadi ruang bagi cahaya untuk masuk.
Dan ketika malam perlahan menutup hari, aku mengerti bahwa setiap kepahitan bukanlah akhir, melainkan awal dari sesuatu yang lebih dalam.
Di balik setiap pahit yang kuteguk, kini selalu ada rasa syukur kecil yang tumbuh: bahwa aku masih diberi kesempatan untuk belajar, untuk pulang, dan untuk percaya.
Komentar
Posting Komentar