Postingan

Sempat

 Pada Secangkir Kopi, aku bercerita : Aku berdoa kepada Sang Pencipta, Agar bagiku, Ia hadirkan cinta. Secangkir Kopi berbisik lirih : “Aku yang masih sempat kau nikmati, adalah apa yang kau minta dalam doamu.”

Dalam Pahit, Aku Belajar Pulang

Di sudut desa yang lengang, sore terasa melar. Waktu berjalan lambat, seolah enggan meninggalkan bayang-bayang yang tertinggal. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah yang basah dan suara-suara kecil kehidupan yang nyaris tak terdengar. Aku menyeduh secangkir kopi —ritual kecil yang menahan jiwaku agar tetap berpijak. Setengah sendok gula dan dua sendok kopi kutuang ke dalam gelas. Sengaja kubiarkan hanya sedikit gula, bukan karena takdir diri ini terlahir manis, melainkan karena aku telah belajar bahwa pahitlah yang menyadarkan . Pahitlah yang meruntuhkan tembok keangkuhan. Kuseruput perlahan. Pahitnya menyeretku masuk ke lorong batin yang sunyi, lorong yang jarang kusambangi. Dua puluh enam tahun perjalanan hidup—hamparan panjang penuh sukacita, keberhasilan, kebahagiaan, dan hal-hal manis yang kerap membuatku lupa diri. Membuatku percaya bahwa segala sesuatu adalah buah kerja tanganku semata. Bahwa aku adalah pencipta jalanku sendiri. Bahwa aku tak lagi menginjak tanah, hidup di...

Bukan Tinta, Hanya Air Mata

Sudah lama… Sejak terakhir kali kutuangkan rasa, Ke dalam goresan tinta. Kini jari-jemari perlahan kaku, Seperti jiwa yang kehilangan bahasa. Namun, Sejak kepergianmu, Dada ini penuh sesak— Bagai lahar yang bergolak, Tak lagi tahan berdiam di perut bumi. Kehilangan, kerinduan, penyesalan— Semua berpadu menjadi satu. Dalam kekakuan,  Tak lagi tergores tinta Hanya air mata. Kau indah dalam tuturmu, Kau indah dalam lakumu. Kau indah dalam senyummu, Kau indah dalam tawamu, Keindahan itu, sempurna bersemayam dalam dirimu. Begitu indah… membayangkan hadirmu dalam hidupku, Betapa pedih… menyadari keindahan itu telah jauh dariku. (RD)

PADA SURYA DI LANGIT SENJA, AKU TITIPKAN

Pada surya di langit senja, aku titipkan Maaf yang tak sempat terucap Pada surya di langit senja, aku pasrahkan Janji yang belum sempat ditunaikan Pada surya di langit senja, aku dengungkan Rindu yang semakin menggebu Pada surya di langit senja, aku utarakan Terima Kasih yang masih tersimpan dalam diam Pada surya di langit senja, aku pinta Tenggelamlah bersama semua harap Kembali terbitlah membawa cinta Sehangat fajar yang datang mendekap (RD)

Mengapa Aku Selebay ini?

Sore ini, disudut kamar sempit dan sepi, hanya aku dan secangkir kopi Berteman bayangmu yang tak ingin menepi Iseng, kuambil kertas dan pena menulis tentangmu, Tentang kamu yang biasa kusebut nona Kau adalah Aurora Pesona indah, Mahakarya Sang pencipta Terpancar manja, di hitam bola mata Senyummu itu misteri Aku berimajinasi, hingga terbawa mimpi Bagaimana bisa kamu semanis ini? Mungkinkah kau adalah madu, Atau makhluk yang tercipta dari tebu ? Bukan dari debu Kuseruput kembali kopi yg perlahan kehilangan kehangatan, arkkkkhhh Ampasnya terbawa hingga kerongkongan Aku pun tersadar dari lamunan Wajah cantik indah menawan Perlahan kubaca kembali tulisanku Dengan senyum simpul yang terlukis di bibir, terbesit tanya dalam diri, mengapa aku selebay ini? 😂

Tentang Kamu

Tentang kamu, Sahabat sejati waktu Rupa yang timbul, meninggalkan jejak tanpa ujung untuk ditelusuri, menyisakan genangan tanpa dasar untuk disudahi Adakah sesuatu dalam senyummu Merasuk hingga titik nadir alam bawah sadar, lalu diam dan menetap tanpa berkabar Adakah sesuatu dalam senyummu Menggetarkan kembali rasa yang mulai kaku, oleh kejamnya waktu yang mengusik hal-hal lalu Senyummu picu Imajinasiku bergerak bebas Dalam ruang kata penuh majas Kau adalah jiwa yang memberi makna setiap goresan tinta yang melekuk, memberi rasa dalam setiap rangkaian kata yang terbentuk. (RD)

Menunggu tanpa kepastian, memang melelahkan

Hari ini benar-benar melelahkan, bukan karena banyak hal-hal berat yang saya lakukan, saya hanya duduk diam diatas bangku panjang yang terletak disudut ruangan, namun terasa berat karena saya duduk sambil menunggu. Menunggu itu memang sangat melelahkan, apalagi menunggu tanpa ada kepastian 😂😂. Ini sedikit kisah, ketika hari ini saya datang ke Disdukcapil untuk mengambil Kartu Keluarga(KK) yang sudah diurus sejak 2 tahun lalu. Ya 2 tahun lalu, tepatnya tahun 2017. Pada saat itu saya diberikan sebuah slip registrasi, agar dibawa satu bulan kemudian saat pengambilan KK tersebut. Namun sialnya, slip itu menghilang entah kemana tanpa meninggalkan satupun pesan, mungkinkah ia telah jatuh ke pelukan orang lain? Hahahah, Itu hanya pikiran bodohku saja 😂😂😂. Entah setan apa yang sedang merasukiku, hingga saat ini saya baru sadar untuk mengambil surat penting tersebut. Datanglah saya ke loket pengambilan KK di disdukcapil, "mana slipnya?" tanya petugas, "hilang...