Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Dalam Pahit, Aku Belajar Pulang

Di sudut desa yang lengang, sore terasa melar. Waktu berjalan lambat, seolah enggan meninggalkan bayang-bayang yang tertinggal. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah yang basah dan suara-suara kecil kehidupan yang nyaris tak terdengar. Aku menyeduh secangkir kopi —ritual kecil yang menahan jiwaku agar tetap berpijak. Setengah sendok gula dan dua sendok kopi kutuang ke dalam gelas. Sengaja kubiarkan hanya sedikit gula, bukan karena takdir diri ini terlahir manis, melainkan karena aku telah belajar bahwa pahitlah yang menyadarkan . Pahitlah yang meruntuhkan tembok keangkuhan. Kuseruput perlahan. Pahitnya menyeretku masuk ke lorong batin yang sunyi, lorong yang jarang kusambangi. Dua puluh enam tahun perjalanan hidup—hamparan panjang penuh sukacita, keberhasilan, kebahagiaan, dan hal-hal manis yang kerap membuatku lupa diri. Membuatku percaya bahwa segala sesuatu adalah buah kerja tanganku semata. Bahwa aku adalah pencipta jalanku sendiri. Bahwa aku tak lagi menginjak tanah, hidup di...

Bukan Tinta, Hanya Air Mata

Sudah lama… Sejak terakhir kali kutuangkan rasa, Ke dalam goresan tinta. Kini jari-jemari perlahan kaku, Seperti jiwa yang kehilangan bahasa. Namun, Sejak kepergianmu, Dada ini penuh sesak— Bagai lahar yang bergolak, Tak lagi tahan berdiam di perut bumi. Kehilangan, kerinduan, penyesalan— Semua berpadu menjadi satu. Dalam kekakuan,  Tak lagi tergores tinta Hanya air mata. Kau indah dalam tuturmu, Kau indah dalam lakumu. Kau indah dalam senyummu, Kau indah dalam tawamu, Keindahan itu, sempurna bersemayam dalam dirimu. Begitu indah… membayangkan hadirmu dalam hidupku, Betapa pedih… menyadari keindahan itu telah jauh dariku. (RD)