Dalam Pahit, Aku Belajar Pulang
Di sudut desa yang lengang, sore terasa melar. Waktu berjalan lambat, seolah enggan meninggalkan bayang-bayang yang tertinggal. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah yang basah dan suara-suara kecil kehidupan yang nyaris tak terdengar. Aku menyeduh secangkir kopi —ritual kecil yang menahan jiwaku agar tetap berpijak. Setengah sendok gula dan dua sendok kopi kutuang ke dalam gelas. Sengaja kubiarkan hanya sedikit gula, bukan karena takdir diri ini terlahir manis, melainkan karena aku telah belajar bahwa pahitlah yang menyadarkan . Pahitlah yang meruntuhkan tembok keangkuhan. Kuseruput perlahan. Pahitnya menyeretku masuk ke lorong batin yang sunyi, lorong yang jarang kusambangi. Dua puluh enam tahun perjalanan hidup—hamparan panjang penuh sukacita, keberhasilan, kebahagiaan, dan hal-hal manis yang kerap membuatku lupa diri. Membuatku percaya bahwa segala sesuatu adalah buah kerja tanganku semata. Bahwa aku adalah pencipta jalanku sendiri. Bahwa aku tak lagi menginjak tanah, hidup di...