Ayah, surat cinta ini untukmu

Sore itu, aku sementara duduk menikmati segelas kopi di kos-kosan temanku. Kos temanku ini memang menjadi saksi bisu dari setiap rasa yg kami alami selama menimba ilmu di perguruan tinggi. Kami biasa menyebutnya Base Camp.

Beberapa saat terdengar dering dari telepon genggamku, nama yg tak asing sedang menelponku. Ya, Dia Ayahku.

Aku mengangkat telepon itu, dan pembicaraan pun dimulai. Seperti biasanya, ia bertanya "bagaimana kabar?" "Aman bapak" jawabku singkat.

Lalu sampailah pada suatu momen dimana Ia melancarkan satu serangan padaku lewat pertanyaan "kapan ujian skripsi?".
Sama seperti Ayah lainnya yang ingin segera melihat anaknya menggunakan toga, ia pun begitu.

"Hahhaa" aku sedikit tertawa dan dengan pikiran nakalku mulai mencari-cari alasan untuk sekaligus
Melancarkan serangan balik padanya.
"Saya belum punya Jas untuk ujian bapak", serangan balik pun telah kulancarkan sembari berharap ia menjawab "sedikit lagi cek di rekening, Bapak akan kirim untuk pake beli jas, pake jajan dan lain-lain 😂😂😂".

Harapan pun mulai muncul setelah ia bertanya "memangnya sudah tidak ada uang lagi? ".
Dengan bibir senyam-senyum dan muka yang mulai memancarkan tanda-tanda kehidupan aku jawab "tdk ada lagi bapak, tinggal uang untuk sisa-sisa kehidupan di akhir bulan saja".

Namun, jawaban tak terduga pun muncul
"Kalau begitu pake tahan ko punya uang makan, nanti kalo soal makan, ko tinggal keliling ke kosnya teman2 baru makan disana, Gantung periuk tahan".

"Hahhahahahahha" Kami pun tertawa bersama, setelah mendengar ajaran sesat darinya. 😂😂😂.

Tentu saja Ayahku hanya bercanda

Sudah lama semenjak terakhir mendengar candaan dari bibirnya.

Ayah,
Aku jadi rindu masa kecilku
Masa dimana hari-hariku dipenuhi kebahagiaan.
Kebahagiaan yg berasal dari cerita-cerita konyol tak masuk akal yg Kau ceritakan untukku.

Ayah,
Terimakasih untuk pelajaran, bimbingan dan nasehat yang telah kau tanamkan dan menjadi bekalku berdiri tegar saat ini.

Ayah,
Terimakasih untuk Kasih dan sayangmu.

Dari anakmu, Cinta ini untukmu.
(RD)









Komentar

Postingan populer dari blog ini

PADA SURYA DI LANGIT SENJA, AKU TITIPKAN

Andai, Chairil Anwar adalah Aku

KATA TANPA RASA